Selasa, 12 Maret 2013

Kapuas Gelar Festival Seni Budaya 2013 - KOMPAS.com

Kamis, 7 Maret 2013 | 01:11 WIB
KUALA KAPUAS, KALTENG, KOMPAS.com--Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah menggelar Festival Seni dan Budaya Tingang Menteng Panunjung Tarung 2013 sebagai ajang kreativitas seniman daerah setempat.

"Saya atas nama Pemerintah Daerah Kabupaten Kapuas sangat mendukung dan menyambut baik atas terlaksananya kegiatan yang dilaksanakan tiap tahun oleh Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kapuas," kata Asisten I Sekretariat Daerah Kabupaten Kapuas, Frederik Timbung, di Kuala Kapuas, Rabu.

Acara yang pelaksanaannya dalam rangkaian Hari Jadi Kota Kuala Kapuas dan Pemerintah Kabupaten Kapuas ini diikuti oleh peserta dari sanggar tari serta kelompok kesenian sekolah-sekolah di Kuala Kapuas yang meliputi festival tari pesisir sebanyak 5 peserta, tari pedalaman 9 peserta. Kemudian untuk Festival Karungut Putra dan Putri masing-masing diikuti tujuh peserta dengan membawakan lagu wajib dan pilihan.
Frederik mengatakan kegiatan ini bagi peserta sebagai ajang berkompetisi yang sehat, untuk menguji kemampuan dan mengasah keterampilan.

Selain itu diharapkan mampu mendorong minat dan mengembangkan bakat regenerasi untuk lebih mengenal dan menghargai seni dan budaya sebagai warisan leluhur yang berfilosofi tinggi. Ia juga mengatakan melalui kegiatan yang dilaksanakan itu, para seniman lebih terpacu kreativitasnya untuk menghasilkan karya-karya yang inovatif guna mencapai karya seni yang maju dan bermutu.

Perkembangan ilmu dan teknologi dewasa ini, seiring dengan era globalisasi tentu saja membawa pengaruh-pengaruh positif bagi kehidupan, namun juga ikut serta pengaruh negatifnya.

"Untuk membentengi generasi penerus kita dari krisis moral dan budaya, salah satu upaya pemerintah adalah melalui kegiatan festival seni dan budaya ini," kata Frederik Timbung. 

Sumber : ANT
Editor   : Jodhi Yudono
Kapuas Gelar Festival Seni Budaya 2013 - KOMPAS.com

Minggu, 10 Maret 2013

Ada Cap Go Meh, Jalan Suryakencana Akan Ditutup 8 Jam - Yahoo! News Indonesia

MINGGU, 10 MARET 2013 - TEMPO.CO, Bogor - Masyarakat Tionghoa di Bogor kembali menggelar perayaan Cap Go Meh atau Festival Street pada Rabu mendatang, 13 Maret 2013. Pesta rakyat yang melibatkan 5.000 peserta ini terpusat di Jalan Raya Suryakencana hingga Jalan Batu Tulis, Kota Bogor. Untuk itu, jalan menuju kawasan pecinan itu bakal ditutup total selama delapan jam, mulai pukul 16.00 hingga 24.00.

Ketua Panitia Festival Street 2013, Arifin Himawan, mengatakan, ruas jalan yang digunakan untuk kegiatan tersebut mencapai 5 kilometer. Pusat acara di Wihara Dhanagun, Jalan Suryakencana, dan pawai Dhandgun hingga persimpangan Batu Tulis.

"Untuk parkir kendaraan penonton atau pendatang, disiapkan di Terminal Baranangsiang, Terminal Bus Damri, kampus IPB, dan Botani Square," kata Arifin di Bogor, Sabtu, 9 Maret 2013.

Festival ini, Arifin menjelaskan, didukung sekitar 5.000 peserta, baik dari kelompok seni hingga organisasi di Bogor. Peserta di antaranya Komunitas Ciliwung, Kelompok Seni di Sukabumi, Tangerang, dan Surabaya. Perayaan Cap Go Meh juga dimeriahkan parade 12 kendaraan hias yang melambangkan 12 shio.

"Ada juga parade 50 barong, 25 liong, dan 20 joli. Selain itu, dalam pesta rakyat ini, ikut menyemarakkan patung Ogoh-ogoh, yang merupakan budaya dari Hindu," kata Arifin.

Kepala Bagian Operasional Kepolisian Resor Bogor, Komisaris Syahroni, mengatakan, pesta rakyat dalam rangka perayaan Cap Go Meh tersebut diperkirakan ditonton sekitar 10 ribu orang, baik dari warga dalam kota maupun luar Bogor.

"Kami imbau para calon penonton tidak membawa barang yang dapat memancing kerawanan keamanan, karena acara ini melibatkan massa yang banyak," kata Syahroni. "Akses jalan menuju Suryakencana-Batu Tulis ditutup total."

Menurut Arifin, acara gelar budaya 2013 kali ini mengambil tema "Menjalin Persatuan Bangsa dalam Ragam Budaya". "Harapannya dapat memperat persatuan dan kesatuan, kendati berbeda-beda."

Festival Street Bogor 2013 rencananya dihadiri Menteri BUMN Dahlan Iskan, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, dan para pejabat Kota Bogor.(ARIHTA U SURBAKTI)

Sabtu, 09 Maret 2013

Puan Menangis Bicarakan Kader PDIP yang Menyeberang

Puan Menangis Bicarakan Kader PDIP yang Menyeberang
Puan Maharani
KETUA DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Puan Maharani, tak mampu menahan air mata saat berpidato membuka Rapat Kerja Daerah Khusus (Rakerdasus) DPD PDIP Jateng di Restoran Diamond, Jalan Slamet Riyadi Solo, Sabtu (09/02/2013) sore. Puan tak mampu menahan emosi, saat membicarakan kadernya yang menyeberang ke partai lain dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Tengah (Jateng). "Saya kalau bicara Jateng memang suka melow," ujarnya.

Putri Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, sempat menyindir petahana Gubernur Jateng Bibit Waluyo, yang akhirnya menyeberang sebagai cagub dari Partai Demokrat.

"Kami pernah mencalonkan orang yang bukan kader. Saat kami berharap orang tersebut sebagai keluarga besar PDIP, ternyata kami ditinggal," kata Puan. Karena itulah, PDIP memilih pasangan Ganjar Pranowo dan Heru Sujatmoko sebagai cagub-cawagub Jateng dari kalangan kader. 

Don Murdoko yang juga mantan kader PDIP yang kini mencalonkan diri sebagai cawagub, pun tak luput dari sindiran Puan. Lagi-lagi, Puan tampak emosional dan menitikkan air matanya. 

"Kalau sudah keluar dari partai, sudah menyeberang ke partai lain, jangan berani-berani memasang foto Megawati Soekarnoputri dan gambar Bung Karno," tuturnya sambil mengusap air mata. (*)

Penangkapan Kelompok Hercules Upaya Pengalihan Isu - Yahoo! News Indonesia



Dugaan pengalihan isu disampaikan Alfons karena belakangan diketahui Hercules dengan bendera ormas kepemudaan Gerakan Rakyat Indonesia Baru (GRIB) menyatakan dukungan kepada Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto menjadi presiden. Namun, tiba-tiba jajaran Polda Metro Jaya menangkap Hercules dan kelompoknya atas dugaan pemerasan pada Jumat (8/3/2013) kemarin. Di saat bersamaan, saat ini terlalu banyak kejadian yang menjadi perhatian publik, seperti gesekan TNI dan Polri dengan terjadinya penyerangan terhadap Mapolres OKU, Sumatera Selatan. 

"Tapi baru ditangkap sekarang itu tidak jelas masalahnya. Jangan sampai penangkapan  itu sebuah komoditas pengalihan isu atau mencari popularitas murahan, buktikan atau tunjukkan kesalahannya seperti apa. Jangan sampai membuat seperti sate, kumpulkan daging demi daging, lalu ditusuk, dan baru diangkat," kata Alfons.
Alfons menegaskan, setiap warga negara, termasuk Hercules, memiliki hak politik. Dengan begitu, tidak ada masalah bila saat ini Hercules dekat dengan tokoh parpol. "Kalau dia dekat, memang kenapa, memang enggak boleh," ucap Alfons.

Menurut Alfons, kepolisian pun tidak perlu khawatir bila saat ini nama Hercules makin tenar. Justru seharusnya kepolisian bisa merangkul dan menggunakan Hercules sebagai mitra dalam upaya menjaga ketenteraman dan ketertiban di masyarakat.

"Kalau ada warga negara yg punya popularitas, so what? Jadi, polisi jangan terlalu minder dengan misalnya, 'Wah, sekarang Hercules populer yah'. Kalau ada warga yang populer, kenapa polisi tidak gunakan Hercules sebagai potensi masyarakat agar bisa ikut menenteramkan masyarakat. Jadi, strarteginya, strategi rangkul," tandasnya.

Rabu, 06 Maret 2013

SOAL ULANGAN SENI BUDAYA/MUSIK TP 2012 - 2013 SMAN 42 JAKARTA

Siswa sedang UTS
Satuan pendidikan    :  SMA Negeri 42
Mata pelajaran          :  Seni budaya/Seni musik
Tahun pelajaran        :  Th. 2012/2013
Kelas / Semester        :  X / Genap
Standar kompetensi  :  Mengekspresikan diri melalui karya seni musik
Kompetensi dasar     : Mengembangkan gagasan kreatif serta mengaransir lagu dengan  beragam 
teknik media,danmateri musik / lagu non tradisional.

Indikator:
1.        Membaca dan menulis tanda mula kres dan mol
2.        Membaca dan menulis notasi balok

S O A L
A.        Dalam penulisan notasi musik, kita bisa mengetahui nada dasar suatu tangga nada hanya dengan melihat ‘tanda mula’ yaitu tanda mula Kres dan Mol. Buatlah susunan tangga nada kres dan mol dengan nada dasar sebagai berikut :

Nada Dasar (Kres)
Nada Dasar (Mol)
1.      A = do / 3 kres
2.      E = do / 4 kres
3.      B = do / 5 kres
4.      Fis = do / 6 kres
5.      Cis = do / 7 kres
6. Bes = do / 2 mol
7. Es = do / 3 mol
8. As = do / 4 mol
9. Des = do / 5 mol
           10. Ges = do / 6 mol

B.        Salinlah ke dalam notasi balok notasi angka lagu berikut :

Do = F
4/4 Allegro
___     ___    ___            ___    ___    ___             ___    ___    ___             ___    ___    ___
0   5   6   6   5   3   2  │  3   5   3   6   5   3   2  │  3   5   3   6   5   3  │  2   2   6   1   2   1   3  ║
 
Do = G
4/4 Moderato
              ___    ___    ___             ___    ___    ___    ___        ___    ___    ___    ___    
5   3  │  2   2   6   1   2   1   3  │  2   2   2   6   1   2   1   3  │  2   6   .    6   5   3   2   3  │  5  5
  
Selamat Mengerjakan !

Sabtu, 02 Maret 2013

Adakah Tempat bagi Agama Minoritas? | Newsroom Blog - Yahoo! News Indonesia


Robin Hartanto
Oleh | Newsroom Blog – Kam, 28 Feb 2013
Ahmad Masihudin, 25 tahun, bersama beberapa temannya yang juga jemaat Ahmadiyah, baru saja tiba di Cikeusik pukul 8.30 pagi, 6 Februari 2011. Ia sedang beristirahat, ketika satu setengah jam kemudian sekitar ribuan militan Islamis menyerang mereka.

“Saya lari kebun, lalu ditangkap di sana. Kepala belakang saya ditebas dan bahu saya ditusuk. Saya ditelanjangi hingga sisa celana dalam. Mereka lalu menyeret saya, menusuk mata saya dengan bambu, dan dipukuli lagi hingga seorang polisi datang. Ketika ada yang teriak ‘Dia sudah mati, dia sudah mati,’ saya lalu dievakuasi ke mobil polisi,” kata Ahmad dalam peluncuran laporan riset Human Rights Watch berjudul “Atas Nama Agama: Pelanggaran terhadap Minoritas Agama di Indonesia,” di Jakarta, Kamis (28/02).

Setelah peristiwa setahun lalu itu, Ahmad sampai sekarang harus rutin berobat ke tiga dokter berbeda: dokter saraf, dokter mata, dan dokter hidung. Bintik-bintik hitam mengganggu pandangan mata kanannya, dan dokter tidak tahu bagaimana menyembuhkannya. Hidungnya dioperasi dua kali karena terdapat tulang yang bengkok dan juga pecahan tulang, hingga harus dipasang tulang buatan. Di dalam kepalanya terdapat penggumpalan darah, yang membuatnya harus rawat jalan. Kuliahnya terpaksa dihentikan, begitu juga pekerjaannya. Mahasiswa arsitektur ini masih beruntung dibanding tiga temannya yang tewas dalam penyerangan itu.

Ahmad adalah satu dari begitu banyak korban kekerasan dan diskriminasi terhadap komunitas agama minoritas yang semakin menjadi di Indonesia—negara yang sebetulnya turut meratifikasi Kovenan Internasional Hak-hak Sipil dan Politik, yang salah satu poinnya menjamin kebebasan beragama termasuk bagi kelompok minoritas.

Melalui laporan risetnya, Human Rights Watch, lembaga independen yang mengawasi penegakan hak asasi manusia di 90 negara di dunia, mengurai puluhan kasus intimidasi komunitas agama minoritas yang terjadi di Indonesia. Selama dua tahun terakhir, lembaga ini melakukan penelitian di 10 provinsi, dan mewawancarai lebih dari 115 sumber, baik itu korban, pelaku, polisi, dan pihak-pihak lain yang terkait.

Phelim Kine, Wakil Direktur Human Rights Watch sektor Asia, mengaku terkejut dengan temuan-temuan nyata di berbagai tempat di Indonesia ini. “Temuan ini merupakan kegagalan total pemerintah Indonesia mengkonfrontasi kekerasan terhadap agama minoritas,” kata Kine dalam peluncuran laporan riset setebal 120 halaman itu. Dia menjelaskan bahwa kebebasan beragama dijamin melalui konstitusi. Tetapi, bukannya mengkonfrontasi kelompok ekstrimis dan kekerasan yang mereka lakukan, Presiden Yudhoyono justru lebih banyak melakukan retorika kosong ketimbang tindakan tegas.

Kebijakan Pemerintah Memfasilitasi Diskriminasi
Peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh lembaga pemerintah menjadi salah satu fokus kajian dalam laporan ini. Berdasarkan pengamatan periset Human Rights Watch, banyak peraturan yang justru cenderung memungkinkan pihak agama mayoritas untuk menekan agama minoritas.

Misalnya, Surat Keputusan Bersama (SKB) Rumah Ibadah yang dibuat tahun 1969 dan direvisi tahun 2006, mengharuskan pembangunan rumah ibadah berdasarkan “keperluan nyata dan sungguh-sungguh” dan “komposisi jumlah penduduk.” Data Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia menunjukkan bahwa 430 gereja dipaksa ditutup antara Januari 2005 dan Desember 2010.

SKB Anti-Ahmadiyah yang dibuat oleh Menteri Agama, Jaksa Agung, dan Menteri Dalam Negeri pada tahun 2008 adalah contoh nyata lainnya. SKB ini, seperti tercatat dalam laporan ini,  “membuka pintu bagi para gubernur serta bupati dan walikota membuat ketentuan peraturan anti-Ahmadiyah.” Tercatat 22 peraturan walikota dan bupati di Indonesia telah mengeluarkan regulasi anti-Ahmadiyah semenjak munculnya SKB tersebut.

Agama-agama lokal juga turut mendapatkan diskriminasi. Ini dialami oleh Dewi Kanti, penganut Sunda Wiwitan yang adalah satu dari sekian banyak agama lokal di Indonesia. Dalam acara yang sama, ia menceritakan bagaimana kantor catatan sipil menolak menerima pernikahannya karena tidak mengakui agama Dewi. Ini membuat anak-anaknya kemudian dianggap lahir di luar nikah, dan pada akta kelahiran mereka, diperlukan dokumen lain untuk bisa mencantumkan nama ayahnya.

“Kami merasa anjing atau kucing ras lebih berharga di negara ini. Mereka punya silsilah jelas, sedangkan untuk mencantumkan nama ayah saja pada akte anak kami, harus ada Akta Pengakuan Anak. Padahal itu bapak biologisnya,” kata Dewi.

Untuk dapat menyelesaikan segala pelanggaran ini, Phelim Kine mengatakan bahwa kuncinya terdapat pada kemauan politis dari pihak-pihak yang berwenang. “Penyelesaiannya tidak membutuhkan ilmu pengetahuan yang canggih. Yang dibutuhkan adalah pelaksanaan peraturan dengan tegas,” kata Kine.

Jualan gorengan, mahasiswa ini raup untung Rp 120 juta per bulan - Yahoo! News Indonesia

Fenomena ini rupanya ditangkap oleh Riyadh Ramadhan, seorang mahasiswa berusia 19 tahun, lulusan SMA Al Hikmah Surabaya. Dia jeli melihat makanan gorengan sebagai potensi untuk berbisnis.

Riyadh menceritakan, aktivitas bisnisnya sebenarnya sudah dimulai sejak dia duduk di bangku Sekolah Dasar. Ketika itu dia biasa menjual mainan anak-anak dan gambar tempel kepada teman-teman sekolahnya. Dia mengatakan inspirasi menjadi pebisnis didapat dari kedua orang tuanya yang juga pebisnis yang sukses mengelola lembaga pendidikan.

Proses Riyadh terjun ke bisnis makanan gorengan ini dimulai ketika dia masih berusia 16 tahun, saat masih duduk di bangku SMA. Tahun 2009, berawal dari hobi memasak dan melihat peluang usaha, dia berinisiatif menjual gorengan kepada teman-teman sekolahnya. Semua itu awalnya dia lakukan secara otodidak.

"Saya melihat di Surabaya banyak penjual gorengan, lalu saya berpikir untuk membikin sendiri," kata Riyadh.
Dengan restu dan izin kedua orang tuanya, Riyadh memulai bisnis gorengannya di sekolah. Awalnya dia sempat merasa risih dan malu karena banyak teman yang mengejeknya. Namun dia tetap berpikir positif untuk terus mengembangkan bisnisnya. Setelah berjalan setahun ternyata bisnis gorengannya makin laris hingga dia berpikir untuk membuka kafe gorengan di mal.

Dengan bekal keuntungan setahun dan bantuan dana dari orang tuanya, Riyadh mulai membuka kafe gorengan di salah satu mal di Surabaya dengan nama Go Crunz. Di kafe itu dia menyediakan menu gorengan, seperti kentang, jamur, ayam, dan otak-otak ikan. Selain gorengan, dia juga menyediakan beragam pilihan minuman.
Dengan harga Rp 6.000-Rp 9.000 per kotak yang berisi empat sampai lima gorengan ternyata banyak orang menyukai gorengan Riyadh. Tak seberapa lama, dia pun membuka dua gerai baru.

Dari ketiga gerai itu, total omzet yang didapatnya mencapai Rp 120 juta per bulan, dengan laba sekitar 40 persen dari omzet. Pada Oktober 2010 Riyadh pun resmi menawarkan kemitraan usaha. Hingga kini Riyadh telah memiliki 12 gerai usaha yang tersebar di beberapa kota, antara lain Jakarta, Bekasi, Malang, dan Balikpapan. Meraih kesuksesan di usia muda mungkin menjadi impian banyak orang. Namun bagi Riyadh Ramadhan impian itu kini telah diraihnya menjadi kenyataan. Bisnis gorengannya tumbuh cukup 'subur'.

"Saya ingin beberapa tahun ke depan bisa go international," ucapnya.
Kisah sukses bisnis gorengan berhasil mengantarkan Riyadh dinobatkan sebagai Entrepreneur Termuda 2010 versi Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah.

Sumber: Merdeka.com