Sabtu, 10 Agustus 2013

Kamis, 08 Agustus 2013

Sudahkah Anda Bercermin? Cermin "Ajaib" Ini Punya Efek Berbeda...



Penulis : Tabita Diela | Jumat, 9 Agustus 2013 | 09:01 WIB

Image "Bercermin" (Foto: www.dezeen.con)
www.dezeen.com Cermin ini seperti tertekuk. Dua orang dapat mengecek penampilan mereka secara bersamaan tanpa perlu saling berdempetan.
KOMPAS.com - Sekilas, bentuk cermin ini melingkar sederhana. Namun, cermin buatan studio desain Halb/Halb tersebut ternyata sungguh istimewa, untuk tidak dibilang "ajaib". Kaca ini seperti tertekuk. Dua orang dapat mengecek penampilan mereka secara bersamaan tanpa perlu saling berdempetan. Sederhananya, kaca ini membuktikan bahwa memanfaatkan sudut dengan tepat dapat membuat sebuah benda tampak lebih menarik.

Cermin dengan nama The Mirror #180 ini memiliki semacam lipatan di tengahnya. Karena itu, dari ketiga cara pasang cermin, masing-masing memiliki efek berbeda.

Cara pasang pertama adalah memastikan lipatan cermin ini tegak lurus secara vertikal. Dengan cara ini, dua orang dengan ketinggian yang sama dapat bersama-sama menggunakan cermin tanpa kesulitan. Cara kedua, pastikan lipatan kaca tampak horizontal. Cara ini membuat dua orang dengan ketinggian berbeda dapat berkaca dengan mudah. Terakhir, dengan memastikan lipatan kaca membentuk garis miring, kaca ini akan menampilkan ruangan dan plafon secara bersamaan.

Cermin ini dibuat dari kaca dan kayu. Ukuran diameternya mencapai 50 sentimeter. Kayu digunakan sebagai fixing di bagian belakang cermin untuk menggantungnya. Tidak hanya praktis, The Mirror #180 ini juga bisa menjadi hiasan unik dan praktis di salah satu dinding rumah.

Cermin "ajaib" ini bisa diperoleh di toko online Berlin Design Store dengan harga 195 Euro (Rp 2,6 juta).

Halb/Halb sendiri merupakan studio desain baru yang berbasis di Berlin, Jerman. Studio desain ini didirikan oleh Nikolaus Kayser dan Nicole Losos.

Sumber :
Editor :
Hilda B Alexander

Minggu, 28 Juli 2013

Sekolah Paksa Murid Makan di Kamar Mandi

Sejumlah foto yang baru-baru ini beredar telah memicu amarah para pengguna internet. Foto-foto itu memperlihatkan bagaimana para pelajar non-muslim di sebuah SD di Malaysia dipaksa makan di kamar mandi selama bulan puasa.

 Foto- foto yang tampaknya diunggah di Facebook oleh orangtua siswa itu memperlihatkan pelajar SK Seri Pristina di Sungai Buloh duduk mengelilingi meja sebuah ruang ganti yang disulap menjadi ruang makan dadakan.

Pihak sekolah diduga telah memaksa para siswa untuk makan di ruangan makan darurat itu, yang terletak berdampingan dengan toilet.

Tidak ada makanan yang tersedia di kantin karena pihak sekolah menutupnya selama Ramadan.

Dikabarkan bahwa para pejabat dari Education telah melakukan pertemuan dengan pihak sekolah dan orangtua murid pada Selasa (23/7).

Dalam tanggapan cepatnya di Twitter, Wakil Menteri Menteri Pendidikan P Kamalanathan mengatakan bahwa sekolah tersebut telah diinstruksikan untuk memindahkan lokasi ruang makan darurat itu.

Dia menambahkan bahwa kementerian telah meminta penyelidikan atas masalah tersebut.

“Jika kantin sekolah akan dipindahkan, lokasi yang tepat seharusnya sudah dipertimbangkan; yang pastinya bukan di kamar mandi.”

“Ini bukanlah hal yang tepat untuk dilakukan. Pihak sekolah sedianya bisa menunjuk pegawai kantin sementara untuk menjalankan tugasnya selama Ramadan,” katanya.

Orang tua murid: penuh bakteri
Dalam postingan Facebook miliknya, Guneswari Kelly, yang mengaku memiliki seorang putri di sekolah itu, mengatakan bahwa para siswa dipaksa untuk makan di sana meski bau busuk menyeruak.

“Kamar mandi penuh dengan bakteri dan bau..., dan toilet yang ada di sampingnya menyebarkan bau yang yang mengerikan,” katanya.

Dia mengatakan bahwa ketika para orangtua murid mengeluh, para pelajar hanya dialihkan ke kamar mandi lainnya atau gudang.

“Sebagai seorang ibu, saya miris dan sedih. Berapa lama lagi mereka menerapkan hal ini...? Wahai teman-teman Malaysia, adilkah ini di mata kalian? Apakah Tuhan kalian mengizinkan hal seperti ini?” tanya dia.

“Tegas saja. Jangan menyembunyikan [anak-anak] di tempat seperti ini."Postingan di Facebook itu telah dibagikan lebih dari 1.900 kali dan menerima lebih dari 160 komentar dalam waktu 12 jam, termasuk dari umat Islam yang mengutuk tindakan tersebut dan mendesak hukuman terhadap pengelola sekolah.

Beberapa di antara mereka mengatakan akan mengajukan laporan ke polisi sementara sebagian lainnya mengunggah tautan ke halaman Facebook milik kepala sekolah, mendesak untuk segera mengambil tindakan.

Salah seorang pengguna Facebook, Myth Laddu Tinna Aasai, mengaku telah mengajukan laporan kepada polisi.

“Saya seorang warga Malaysia sekaligus seorang muslim dan saya dengan tegas tidak setuju dengan perlakuan terhadap mereka yang berbeda keyakinan…”

“Ini bukan ajaran Islam. Saya berharap agar mereka yang terlibat dihukum dengan adil. Saya penasaran, di mana sih mereka menempatkan otak mereka,” kata Emy Deen yang turut memberikan komentar.

Pemberi komentar lainnya, yang mengaku berprofesi sebagai guru, mengatakan bahwa anak-anak seharusnya diizinkan untuk makan di kantin seperti biasa tapi disarankan untuk tidak memamerkan makanan mereka di depan anak-anak muslim yang sedang berpuasa.

“Tegas saja. Jangan menyembunyikan [anak-anak] di tempat seperti ini. Sungguh keputusan yang tidak bijak dari kepala sekolah,” kata Akmar Zainal Mokhtar.

Suguna Papachan menambahkan bahwa insiden itu terjadi karena kurangnya kebijakan untuk mengatasi perbedaan ras dan agama.

“[Pemerintah] tidak menyadari bahwa kita adalah negara dengan banyak agama, tidak menyadari bahwa perlu hidup berdampingan sehingga (bukan sekadar) Islam menjadi agama resmi dan setiap orang harus menghormati yang itu-itu saja.”

“Harus ada penghormatan keyakinan budaya dan agama dari semua pihak, misalnya, jika umat Islam berpuasa di sekolah, harus ada makanan yang disediakan untuk siswa yang bukan muslim," katanya.

Kamis, 25 Juli 2013

Tayangan di Tiga TV Lecehkan Nilai Ramadan, Lainnya Dipuji MUI


Oleh Editor KapanLagi.com, Selebriti | Kapanlagi – 17 jam yang lalu
 
Tayangan di Tiga TV Lecehkan Nilai Ramadan
KAPANLAGI.COM - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat memberikan catatan serius terhadap empat tayangan di tiga stasiun televisi yakni Trans 7, Trans TV dan ANTV yang dinilai menyajikan tayangan tidak mendidik dan tidak sejalan dengan semangat Ramadan.

"Tiga stasiun televisi tersebut menayangkan lawakan yang berisi pelecehan, jauh dari nilai Ramadan, hingga lawakan konyol," kata Anggota Komisi Infokom MUI Usman Yatim dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (23/7).

Menurut Usman, program Ramadan yang mendapat catatan serius yaitu 'Yuk Kita Sahur' dan 'Karnaval Ramadhan' (Trans TV), Sahurnya OVJ (Trans 7), 'Sahurnya Pesbukers' (ANTV).

Jika pada Ramadan tahun lalu, hanya tiga televisi memperoleh apresiasi positif, namun pada tahun ini tiga televisi yang masih menuai kritikan serius yakni Trans 7, Trans TV dan ANTV.

Tim Pemantau MUI juga mencatat beberapa stasiun televisi yang mengalami perubahan signifikan yakni RCTI dan Indosiar. "Kini di dua stasiun TV itu (RCTI dan Indosiar) tidak ada lagi komedi sarkastik seperti tahun lalu," tambah Usman.

MUI juga mengapresiasi empat televisi yang menampilkan program berkualitas dan sarat nilai yakni Metro TV, TV One, TVRI dan Jak TV.

Selain itu MUI juga mengapresiasi beberapa program tayangan komedi yang dikelola positif yakni Kolak Candil (Global TV), Udah Sahur Belum (Kompas TV) dan Tuan Abu dan Bung Nawas (MNC TV).
"Kami meminta agar stasiun TV menayangkan humor-humor yang sehat," tambah dia.

Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia Iddy Muzayyad mengatakan KPI telah melayangkan enam surat teguran yakni Sahurnya Pesbukers (ANTV), Hafidz Indonesia (RCTI), Sahurnya OVJ (Trans 7), Yuk Kita Sahur (Trans TV), Karnaval Ramadhan (Trans TV) dan Mengetuk Pintu Hati (SCTV). (kpl/antara/dar)


Sabtu, 06 Juli 2013

Taman Budaya Jabar Akan Menampilkan Drama Musikal Kolosal

RETNO/"PRLM"
RETNO/"PRLM"
DRAMA Musikal Kolosal "Puteri Kadita" karya Yusep Mulyana akan dipegelarkan di Teater Terbuka Taman Budaya Jawa Barat, Jumat (5/7), rencananya akan dihadiri Dirjen Ekonomi Kreatif Berbasis Seni dan Budaya Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Prof Dr Ahman Syah, serta Direktur Seni Pertunjukan dan Industri Musik Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Juju Masunah.*** 



BANDUNG,(PRLM).-Cerita legenda Nusantara banyak berisikan pelajaran hidup yang masih relevan dengan kehidupan masa sekarang. Cerita “Dewi Kadita” selama ini terkubur oleh mitos yang berkembang dimasyarakat Jawa Barat maupun masyarakat pesisir pantau selatan.

“Selama ini yang berkembang dimasyarakat hanya sisi mistiknya saja mengenai ratu pantai selatan Nyai Roro Kidul. Tapi apakah masyarakat terutama anak-anak generasi sekarang mengetahui silsilah dibalik mitos tersebut? Dan siapa Nyai Roro Kidul tersebut? Kami (Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat) sebagai UPTD dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat merasa mempunyai kewajiban untuk mempublikasinkannya kepada masyarakat luas siapa itu Nyai Roro Kidul,” ujar Kepala Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat, Dra. Hj. Rosdiana Rachmiwaty, M.Si., disela-sela gladiresik pegelaran Drama Musikal Kolosal “Puteri Kadita” karya Yusep Muldiana, dengan sutradara Anton Yustian.

Drama Musikal Kolosal “Puteri Kadita” yang diangkat dari cerita legenda Puteri Pantai Selatan yang akan dipentaskan Jumat (5/7) malam nanti di Teater Terbuka Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat didukung oleh 70 orang pemain. Jalan cerita dalam bentuk drama musikal pop, akan lebih menekankan pada intrik yang terjadi didalam kerajaan Padjajaran, antara Puteri Kadita sebagai puteri tunggal Raja Padjajaran Munding Wangi dengan Dewi Mutiara ibu tirinya.

Pegelaran Drama Musikal Kolosal “Puteri Kadita” merupakan bagian dari Program Aktivasi Taman Budaya yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di 14 Taman Budaya se Indonesia.
Selain Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, Drs Nunung Sobari M.M., beserta jajaran, pegelaran juga akan dihadiri Dirjen Ekonomi Kreatif Berbasis Seni dan Budaya Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Prof Dr Ahman Syah, dan Direktur Seni Pertunjukan dan Industri Musik Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Juju Masunah. (A-87/A-107)***

"KITA SEMUA WAYANG": Taman Budaya Jabar Akan Menampilkan Drama Musikal ...: Jumat, 05/07/2013 - 08:12 RETNO/"PRLM" DRAMA Musikal Kolosal "Puteri Kadita" karya Yusep Mulyana akan ...