Senin, 15 April 2013

"Bisikan Semilir Angin Pagi" karya Slamet Priyadi



Denmas Priyadi Blog│Selasa, 16 April 2013│Pukul 07:55 wib

“Bisikan Semilir Angin Pagi”
Karya: Slamet Priyadi
Selasa, 16 April 2013│05:43 WIB

Semilir angin yang berhembus perlahan di pagi hari
Saat aku melangkah tertatih turuni jalan setapak sepanjang bukit Parigi
 ‘tuk lemaskan otot kaki yang  sudah lima hari ini terasa kaku, perih, nyeri di jemari
Bisikkan kata-kata di telinga penuh arti dan makna

Wahai manusia, makhluk Khalik Sang Pencipta
Apa yang sudah kau lihat tentang tingkah polah manusia di dunia
Dengan segala sifat serakah, tamak, sombong, angkuh busungkan dada, sok kuasa
 Sifat iri dan dengki, hujat menghujat, hasat menghasut penuh fitnah keji

Ekploitasi alam, di udara, di laut, di hutan, dan di bumi
Bahkan di dalam birokrasi yang penuh intrik-intrik dan korupsi
Jauh dari religi dan tak bisa ditolerir lagi adalah pelajaran bagimu yang nyata
 Agar isi dan lakukan amal perbuatanmu di dunia  
Sepenuhnya dengan dasar etika dan perilaku agama

Wahai manusia, makhluk Khalik Sang Pencipta
Jika Rab kita, jika Tuhan kita sirnakan kasih-Nya
Jika Sang Khalik, Sang Pencipta Semesta ini murka
Maka tiada satu pun makhluk di dunia
 yang mampu dan bisa menunda, mencegah, dan meredamnya
Karena itu wahai manusia…
Sadarlah, sadarlah, sadarlah!
Dan, camkanlah!!!

Kp. Pangarakan 2013
 

ARYO GELEDEK: "INILAH KARYAKU": "Bisikan Semilir Angin Pagi" karya Slamet Priyadi: Denmas Priyadi Blog│Selasa, 16 April 2013│Pukul 07:55 wib   Jalan setapak bersemak menuju Kali Sadane di Kp. Pangarakan “Bisik...

Minggu, 14 April 2013

Inggris Gagal Pertahankan Lukisan Pablo Picasso "Child With A Dove"

Sebuah lukisan karya Pablo Picasso yang dilukis saat usia 19 tahun dan berada di Inggris sejak 1924, “Child With A Dove” akan dipindahkan ke Qatar setelah upaya untuk membeli kembali dari kolektor pribadi gagal.
BBC Indonesia – Sabtu, 13 April 2013 – 13:03 WIB - Lukisan dengan judul Child With A Dove terjual tahun lalu dengan harga dilaporkan mencapai £50 juta tetapi pemerintah melakukan larangan ekspor untuk karya tersebut dengan harapan ada pembeli Inggris yang mau membelinya. Dan saat larangan ekspor tersebut berakhir Desember lalu, tidak ada institusi yang mampu mengumpulkan dana untuk membeli lukisan tersebut. Lord Inglewood, ketua Komite Seni Inggris menyebut kehilangan lukisan tersebut sebagai ''sebuah hal yang sangat disayangkan.''

'Qatar'

Dia mengatakan: ''Child With A Dove" adalah sebuah lukisan ikonis Picasso, dan memiliki sejarah yang panjang dalam koleksi seni Inggris. Itu merupakan salah satu karya awal Picasso, dan menandakan momen transisi dalam karirnya, yang membawanya ke Periode Biru.
"Sangat disayangkan bahwa institusi di Inggris tidak bisa mengumpulkan dana yang dibutuhkan untuk tetap menahan karya seni yang cantik ini di dalam negeri. Tetapi ini adalah alasan mengapa larangan ekspor sangat penting untuk melindungi warisan kebudayaan bangsa.'' Lord Inglewood menambahkan: ''Dalam kasus Picasso, uang jelas sebagai masalahnya.''
Menurut koran Prancis Le Figaro, Child With A Dove dibeli seorang kolektor asal Qatar. Negara ini sekarang menjadi salah satu pemain yang serius di dunia seni dan dikabarkan juga telah membeli The card Players karya Cezane seharga £162 juta dan £47 juta untuk karya Rothko, White Center (Yellow, Pink and Lavender on Rose).
Philip Hoffman, kepala eksekutif yayasan Fine Art Fund, kepada Independent mengatakan:"Qatar adalah salah satu dari tiga pembeli terbesar di dunia saat ini, dan mereka memiliki sumber daya yang sangat besar.''
"Qatar membuat komitmen yang besar untuk membuat negara Arab tersebut menjadi penghubung dalam pasar seni di Timur Tengah. Mereka membangun museum dengan koleksi seni yang luar biasa.''

Hemat estetika

Child With A Dove terjual di balai lelang Christies atas nama keluarga Aberconway di Wales, yang mewarisi lukisan ini di tahun 1947 menyusul kematian Samuel Courtauld. Lukisan ini pertama kali sampai di Inggris tahun 1924 saat dibawa oleh Nyonya R A Workman. Menjadi salah satu karya pertama dan terpenting Picasso yang masuk dalam koleksi Inggris, yang menandakan transisi seniman tersebut dalam perayaan Periode Biru, saat dia hijrah dari Impresionistis ke gaya yang lebih hemat estetika, menciptakan karya suram dengan melukis dalam nuansa biru dan biru-hijau. Tahun 1970-an, lukisan ini dipinjamkan ke Galeri Nasional di London dan tahun lalu dipamerkan dalam eksebisi Becoming Picasso: Paris 1901 di Galeri Courtauld. 
Eksebisi itu berakhir 27 Mei tahun lalu dan lukisan tersebut akan kembali ke balai lelang Christie sebelum akhirnya meninggalkan Inggris.
Sumber:
BBC Indonesia
Posted:
Slamet Priyadi di Kp. Pangarakan - Bogor   

"KITA SEMUA WAYANG": Inggris Gagal Pertahankan Lukisan Pablo Picasso "...: Sebuah lukisan karya Pablo Picasso yang dilukis saat usia 19 tahun dan berada di Inggris sejak 1924, “Child With A Dove” akan dipi...

Selasa, 09 April 2013

Kisah Margonda, pejuang muda yang jadi nama jalan di Depok


Merdeka.com – Sen, 8 Apr 2013
Margonda Pejuang Muda Dari Depok
MERDEKA.COM. Pernah berkunjung ke Depok, Jawa Barat? Memasuki kota di pinggiran selatan Jakarta itu, sebuah jalan utama akan menyambut Anda. Jalan Margonda menjadi gerbang utama memasuki kota yang dikenal dengan buah belimbingnya.

Hampir semua aktivitas perekonomian tumplek di jalan itu. Dari kantor pusat pemerintahan, terminal bus, stasiun kereta api, rumah sakit, berbagai kampus perguruan tinggi, sekolah, kantor Polres, perumahan, hotel, berbagai pusat kuliner hingga mal-mal. Singkat kata, semua isi kota Depok ada di jalan ini.

Tapi, tahukah Anda siapa Margonda yang menjadi nama jalan tersebut?

Menelusuri sejarah Margonda berarti kembali ke masa-masa revolusi saat peralihan kekuasaan dari Belanda ke Jepang. Wenri Wanhar, penulis buku 'Gedoran Depok: Revolusi Sosial di Tepi Jakarta 1945-1955' menyebut Margonda adalah nama seorang pemuda yang belajar sebagai analis kimia dari Balai Penyelidikan Kimia Bogor. Lembaga ini dulunya bernama Analysten Cursus. Didirikan sejak permulaan perang dunia pertama oleh Indonesiche Chemische Vereniging, milik Belanda.

Memasuki paruh pertama 1940-an, Margonda mengikuti pelatihan penerbang cadangan di Luchtvaart Afdeeling, atau Departemen Penerbangan Belanda. Namun tidak berlangsung lama, karena 5 Maret 1942 Belanda menyerah kalah, dan bumi Nusantara beralih kekuasaannya ke Jepang. Margonda lantas bekerja untuk Jepang.

Saat Jepang takluk dengan bom atom Amerika di Nagasaki dan Hiroshima pada tahun 1945, Margonda ikut aktif dengan gerakan kepemudaan yang membentuk laskar-laskar. Margonda bersama tokoh-tokoh pemuda lokal di wilayah Bogor dan Depok mendirikan Angkatan Muda Republik Indonesia (AMRI) yang bermarkas di Jalan Merdeka, Bogor.

Sayangnya, umur Angkatan Muda Republik Indonesia (AMRI) di bawah pimpinan Margonda relatif singkat. Mereka pecah dan anggotanya bergabung dengan BKR, Pesindo, KRISS dan kelompok kecil sejenis lainnya.

Sementara itu, wilayah Depok sejak lama menjadi 'daerah istimewa'. Wilayah ini dikuasai oleh tuan tanah asal Belanda yang bernama Cornelis Chastelein. Dia merupakan rombongan awal orang Belanda yang datang pada masa awal kolonisasi VOC di Jawa.

Sejarah juga menyebut, Depok sudah lebih dulu merdeka sejak 28 Juni 1714. Mereka punya tatanan pemerintahan sendiri yakni Gemeente Bestuur Depok yang bercorak republik. Pimpinannya seorang presiden yang dipilih tiga tahun sekali melalui Pemilu. Chastelein mewariskan seluruh tanahnya kepada 12 marga budaknya yang berasal dari berbagai Indonesia dan memerdekakan mereka dalam wasiat yang dibuatnya sebelum meninggal.

Meski bermuka pribumi dan berkulit coklat, 12 marga dan keturunan mereka bergaya hidup seperti orang Eropa, buah didikan sang tuan. Mereka inilah yang disebut sebagai 'Belanda Depok'. Sehari-hari mereka menggunakan bahasa Belanda.

Kembali ke masa revolusi, banyaknya kelompok kecil laskar dan para pejuang berakibat petaka bagi para Belanda Depok itu. Pada 11 Oktober 1945, meletus peristiwa Gedoran Depok. Depok diserbu para pejuang kemerdekaan. Para pejuang menilai orang Depok tidak mengakui kemerdekaan Indonesia.

Depok pun dikuasai para pejuang. Kantor Gemeente Bestuur berubah fungsi menjadi markas Tentara Keamanan Rakyat (TKR) batalyon ujung tombak Jawa Barat pimpinan Ibrahim Adjie.

Sayangnya, dalam peristiwa itu, jejak sejarah Margonda tidak tercatat. Yang pasti, beberapa hari kemudian, pasukan NICA yang datang membonceng Sekutu menyerbu Depok untuk membebaskan orang Depok yang ditawan TKR. Pejuang berhasil dipukul mundur. Tawanan wanita dan anak-anak Depok dibebaskan, dibawa ke kamp pengungsian di Kedunghalang, Bogor.

Memasuki bulan November, para pejuang yang tercerai-berai kembali menjalin koordinasi dan menyusun kekuatan. Mereka berencana merebut kembali Depok dari tangan NICA. Mereka menyusun sebuah serangan yang menggunakan sandi 'Serangan Kilat'. Pasukan NICA kelabakan tapi Depok gagal direbut pejuang. Kedua pihak mengalami korban yang banyak.

Saat peristiwa itulah, keberadaan Margonda kembali muncul. Di antara ratusan pejuang yang gugur hari itu, terdapat Margonda, pimpinan AMRI. Margonda gugur 16 November 1945 di Kali Bata, Depok daerah bersungai di kawasan Pancoran Mas, Depok. Sungai yang bermuara di Kali Ciliwung itu menjadi saksi gugurnya Margonda.

Nama Margonda tercatat di Museum Perjuangan Bogor bersama ratusan pejuamg yang gugur. Semasa berjuang, Margonda berkawan dekat dengan Ibrahim Adjie dan TB Muslihat. TB Muslihat senasib dengan Margonda. Dia gugur dalam pertempuran. Pemerintah Bogor membangun patung TB Muslihat di Taman Topi, sekitar stasiun Bogor. Sementara Ibrahim Adjie, berhasil selamat. Dia berkarir menjadi tentara dengan jabatan akhir Pangdam Siliwangi.

Sejarawan UI JJ Rizal yang dikonfirmasi merdeka.com, mengaku tidak tahu alasan pemerintah Bogor menjadikan jalan utama di Kota Depok menggunakan nama Margonda. Depok dahulu adalah kota kecamatan dalam wilayah Kabupaten Bogor

"Soal pemberian nama jalan, kan semata-mata bukan urusan sejarah. Lebih kepada politik. Selama ini, banyak nama tentara yang dijadikan nama jalan meski bukan berasal dari daerah itu. Misalnya para tokoh pahlawan revolusi yang menjadi jalan di berbagai wilayah," kata Rizal.

"Seingat saya, nama Jalan Margonda sudah ada sejak 1980-an," tandasnya.

Jumat, 05 April 2013

Akhir tragis karir Idjon Djanbi, bapak Kopassus TNI AD



Merdeka.com – Kam, 4 Apr 2013

Sosok
MERDEKA.COM. Siapa pemilik akun facebook 'Idjon Djanbi' yang menyebarkan analisa soal penyerangan Lapas Cebongan, belum terungkap. Dalam notesnya, 'Idjon Djanbi' memaparkan temuan dan menuding bukan Kopassus yang menembak mati empat tahanan itu, tetapi polisi. Tentu kebenarannya masih harus diuji dan layak diperdebatkan.

Idjon Djanbi asli adalah nama pemilik komandan pertama pasukan elite TNI AD yang kini bernama Kopassus. Komandan Teritorium III Siliwangi Kolonel Kawilarang meminta Mohammad Idjon Djanbi membangun pasukan komando. Pasukan kecil yang tangguh dan mampu bertempur di segala medan.

Dulunya Idjon Djanbi bernama Kapten Rokus Bernandus Visser. Mantan komandan sekolah terjun payung Belanda. Dia anggota pasukan elite Belanda yang akhirnya bersimpati pada perjuangan Indonesia. Visser kemudian keluar dari tentara Belanda. Menikah dan masuk Islam. Dia mengganti namanya menjadi Mohammad Idjon Djanbi dan menjadi petani bunga di Lembang.

Ketika diminta kembali memimpin dan mendirikan Kesatuan Komando Teritorium III tahun 1952, bukan perkara mudah. Tak ada sumber daya manusia, peralatan dan dukungan dana. Tetapi pelan-pelan Idjon Djanbi mewujudkan sebuah pasukan komando yang handal dengan cucuran keringat dan tetesan darah.

Ternyata tak semua suka kepadanya. Walau sudah masuk Islam, menjadi warga negara Indonesia dan menjadi perwira TNI, tetap saja Idjon dianggap sebagai orang Belanda. Periode 1950an, sentimen itu memang tinggi. Apalagi Idjon Djanbi diangkat menjadi Mayor. Pangkat yang cukup tinggi kala itu.

Desas-desus Idjon Djanbi adalah mata-mata Belanda kerap dihembuskan sejumlah perwira yang iri. Inisial MID, Mohammad Idjon Djanbi sering dikaitkan dengan Militaire Inlichtingen Dienst, dinas intelijen militer Belanda.

"MID, itu katanya singkatan dari intelijen Belanda. Sering ada bisik-bisik itu dulu. Tapi saya tak percaya, banyak teman-teman juga tak percaya. Kalau yang muda-muda memang banyak yang percaya lalu jadi berbeda terhadap Pak Idjon," kata Nadi (86), seorang pensiunan pasukan elite didikan Idjon saat berbincang dengan merdeka.com.

Soal tudingan mata-mata ini juga digambarkan dalam Dalam buku Inside Indonesia's Special Forces yang ditulis Ken Conboy.

Salah satu perwira muda yang tak menyukai Idjon Djanbi adalah Letnan Benny Moerdani (kelak Panglima ABRI), yang baru lulus sekolah jadi instruktur. Benny mencurigai komandannya ini sebagai mata-mata. Tentu tak ada cukup bukti untuk membuktikan itu.

Sejumlah orang yang tak suka pada Idjon terus bergerak. Setelah Kesko TNI menjadi besar, keinginan mereka untuk mendepak Idjon semakin kuat. Kesempatan itu datang tahun 1956, Idjon digeser ke posisi yang tidak nyaman di pusat pelatihan.

Dia tahu dirinya disingkirkan, Idjon marah. Harga dirinya sebagai perwira terusik. Dia meminta keluar dari TNI dan dari kesatuan yang sangat dicintainya. Padahal susah payah Idjon membangun pasukan komando kebanggan Siliwangi itu benar-benar dari nol.

"Saya pribadi yakin Pak Idjon bukan mata-mata Belanda. Dulu dia sudah memilih keluar dri tentara Belanda dan memihak TNI. Dia juga sudah jadi petani bunga di lembang ketika bertemu Pak Kawilarang," kata Nadi.

Idjon Djanbi digantikan wakilnya, Mayor Djailani. Dia memilih bekerja di perkebunan di sekiar Cianjur. Karirnya sebagai tentara dengan sederet prestasi berakhir sudah.

Setelah pensiun, tak jelas kelanjutan berita soal Idjon Djanbi. Begitu juga soal akhir hidupnya. Akhir karirnya tak secemerlang pasukan yang kini dikenal sebagai salah satu pasukan elite terbaik dunia.

Minggu, 31 Maret 2013

Soeharto Kerahkan Petrus Bantai Preman Yogyakarta



Reporter : Ramadhian Fadillah│Merdeka.Com│Jumat, 29 Maret 2013│14:33 WIB
 
Figure Soeharto
Tahun 1980-1985, tindakan para preman yang menamakan dirinya Gali alias gabungan anak liar semakin meresahkan. Mereka merampok, mencuri hingga memperkosa korbannya. Warga ketakutan dan tak berdaya menghadapi aksi para preman itu.

Beberapa waktu kemudian, munculah istilah penembak misterius atau petrus. Mereka menghabisi para preman ini tanpa proses peradilan. Kalau tidak ditembak, para preman akan dijerat tali sampai mati.

Disebut petrus karena memang 'pasukan' ini bukan kesatuan resmi. Walau begitu anggota petrus ini hampir dipastikan anggota ABRI. Mereka berbekal sejumlah daftar, lalu menghabisi para preman yang sudah menakut-nakuti masyarakat.

Presiden Soeharto secara terbuka mengakui petrus memang untuk membuat para penjahat takut. Soeharto muak melihat orang tua dirampok lalu dibunuh. Ada juga istri dirampok dan diperkosa di depan suaminya.

"Itu sudah keterlaluan! Apa hal itu mau didiamkan saja? Dengan sendirinya kita harus mengadakan treatment, tindakan tegas. Tindakan tegas bagaimana? Ya, harus dengan kekerasan. Tetapi kekerasan itu bukan lantas dengan tembakan, dor! dor! begitu saja. Bukan! Tetapi yang melawan ya, mau tidak mau ditembak. Karena melawan, maka mereka ditembak," kata Soeharto dalam buku biografinya yang ditulis Ramadhan KH dan G Dwipayana. Lalu untuk shock theraphy, sengaja mayatnya dibuang agar jadi tontonan dan membuat preman lain keder.

"Supaya orang banyak mengerti bahwa terhadap perbuatan jahat masih ada yang bisa bertindak dan mengatasinya. Tindakan ini dilakukan supaya bisa menumpas semua kejahatan yang sudah melampaui batas kemanusiaan itu," beber Soeharto. Petrus terbukti efektif meredakan kejahatan para preman itu.

Komnas HAM mencatat ada 2.000 korban selama petrus gentayangan. Sumber lain menyebut korban petrus mencapai 10.000 orang. Tahun 2012, Komnas HAM menyimpulkan petrus adalah pelanggaran HAM berat. [ian]

Sabtu, 30 Maret 2013

Sosiolog: Soal Dukun, Masyarakat Harus Selalu Bersikap Kritis



Laporan: Gita Farahdina
Sabtu, 30 Maret 2013 | 23:47 WIB

Antara/Yudhi Mahatma/vg
Metrotvnews.com, Jakarta: Banyaknya penipuan di balik nama dukun dan guru spiritual seharusnya menjadi pelajaran berharga masyarakat. Memang, mempercayai hal-hal seperti itu tidak bisa serta merta dikatakan salah, mengingat pengetahuan tentang dukun dan guru spiritual sudah sejak lama diyakini masyarakat. Namun, setidaknya jangan terlalu menggantungkan apa pun pada orang lain, termasuk dukun dan guru spiritual. Menurut Sosiolog Universitas Indonesia, Lucia Ratih Kusumadewi, seseorang sebaiknya tetap selalu bersikap kritis dan waspada, tidak mudah untuk percaya dan mencoba menggali informasi yang bermanfaat dari berbagai sumber.

"Ketika menghadapi masalah, hendaknya kita memikirkan sendiri jalan keluarnya. Usahakan untuk tidak langsung meminta bantuan terhadap mereka yang menyebut diri sebagai dukun atau guru spiritual," ujarnya.

Editor: Asnawi Khaddaf


Slamet Priyadi
Segala macam praktik magis sejak zaman" bahela", sejak zaman para nabi itu memang sudah ada. Apa lagi di Nusantara negeri tercinta kita ini yang masyarakat dan budayanya begitu heterogen. Baik Santet, tenung (ilmu hitam) dan mantra-mantra penangkalnya itu juga banyak dimiliki oleh para spritualis atau para normal kita di Nusantara ini. Yang menjadi persoalan adalah sekarang ini banyak sekali oknum-oknum paranormal dan dukun palsu yang sesungguhnya tidak memiliki ilmu-ilmu magis seperti itu. dan, oknum-oknum seperti ini biasanya hanya memiliki sedikit, hanya kulitnya saja dan itu yang digunakan untuk mensugesti, mempengaruhi kejiwaan sebagian besar korban yang jiwanya, imannya memang sedang labil karena dihimpit oleh berbagai persoalan hidup. Sosok spritualist, paranormal dan dukun semacam inilah yang tingkat komersialnya demikian tinggi.

Agar tidak tertipu dengan paranormal, spiritualis, dan dukun palsu semacam itu, sebenarnya sangat mudah untuk mengenal ciri-cirinya. Indikasinya adalah jika sang dukun palsu ini meminta tarif bayaran tinggi dengan meminta syarat yang bermacam-macam terkadang di luar nalar dengan maksud agar persyaratan itu diganti dengan sejumlah uang dan hanya si dukun bersangkutan yang mampu mengadakannya. Indikasi semacam itu tidak ada pada paranormal, spiritualist, dan dukun yang memang benar-benar mumpuni "keilmumagisannya".

Slamet Priyadi di Kp. Pangarakan - Bogor

"KITA SEMUA WAYANG": Sosiolog: Soal Dukun, Masyarakat Harus Selalu Bers...: Laporan: Gita Farahdina Sabtu, 30 Maret 2013 | 23:47 WIB Antara/Yudhi Mahatma/vg Praktik Perdukunan Metrotvnews.com, J...